Rabu, 05 Juni 2013

Jalan Pintas Mendekati Allah



Seorang murid Abu Said Abul Khair pernah berkata, "Guru, di tempat lain ada orang yang bisa terbang."Abul Khair menjawab, "Tidak aneh. Lalat juga bisa terbang." Muridnya yang lain berkata, "Guru, di sana ada orang yang bisa berjalan di atas air." Abul Khair berkata, "Itu juga tidak aneh. Serangga pun bisa berjalan di atas air." Muridnya berujar lagi, "Guru, di negeri itu ada orang yang bisa berada di beberapa tempat sekaligus." Abul Khair menjawab, "Yang paling pintar melakukan hal itu adalah syetan.Ia bisa berada di hati jutaan orang dalam waktu bersamaan."

Murid-muridnya bingung dan bertanya, "Kalau begitu bagaimana cara paling cepat untuk mendekatkan diri kepada Allah?" Ternyata murid-murid Abul Khair beranggapan bahwa orang yang dekat dengan Allah adalah orang yang memiliki berbagai keajaiban dan kekuatan supranatural. Abul Khair menjawab, "Banyak jalan mendekat kepada Allah, sebanyak jumlah napas para pencari Tuhan. Tetapi jalan yang paling cepat untuk mendekat kepada Allah adalah dengan membahagiakan orang lain di sekitarmu. Engkau berkhidmat, melayani mereka."

Jumat, 08 Maret 2013

Doa Agar Diselamatkan Dari Penyakit Kikir

Ada sebuah do’a sederhana yang jaami’ (singkat dan syarat makna) yang sudah sepatutnya kita menghafalkannya karena amat bermanfaat. Do’a ini berisi permintaan agar kita terhindar dari penyakit hati yaitu ‘syuh’ (pelit lagi tamak) yang merupakan penyakit yang amat berbahaya. Penyakit tersebut membuat kita tidak pernah puas dengan pemberian dan nikmat Allah Ta’ala, dan dapat mengantarkan pada kerusakan lainnya. Do’a ini kami ambil dari buku “Ad Du’aa’ min Al Kitab wa As Sunnah” yang disusun oleh Syaikh Dr. Sa’id bin Wahf Al Qahthani hafizhahullah.

Do’a tersebut adalah,
اللَّهُمَّ قِنِي شُحَّ نَفْسِي وَاجْعَلْنِي مِنَ الْمُفْلِحِينَ
/Allahumma qinii syuhha nafsii, waj’alnii minal muflihiin/
Ya Allah, hilangkanlah dariku sifat pelit (lagi tamak), dan jadikanlah aku orang-orang yang beruntung
Do’a ini diambil dari firman Allah Ta’ala dalam surat Ath Taghabun ayat 16,
وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung
Kosakata
“الشح” berarti bakhl (pelit) lagi hirsh (tamak/ rakus). Sifat inilah yang sudah jadi tabiat manusia sebagaimana Allah berfirman,
وَأُحْضِرَتِ الأنْفُسُ الشُّحَّ
Walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir” (QS. An Nisa’: 128).
“الفلاح” artinya beruntung dan menggapai harapan. Yang dimaksudkan al falah (beruntung/menang) ada dua macam yaitu al falah di dunia dan di akhirat. Di dunia yaitu dengan memperoleh kebahagiaan dengan hidup yang menyenangkan. Sedangkan kebahagiaan di akhirat yang paling tinggi adalah mendapat surga Allah.
Kandungan Do’a
Do’a ini berisi hal meminta berlindung dari sifat-sifat jelek yang biasa menimpa manusia yaitu penyakit “syuh” yakni pelit dan tamak pada dunia. Orang yang memiliki sifat jelek ini akan terlalu bergantung pada harta sehingga enggan untuk berinfak atau mengeluarkan hartanya di jalan yang wajib atau pun di jalan yang disunnahkan. Bahkan sifat “syuh” ini dapat mengantarkan pada pertumpahan darah, menghalalkan yang haram, berbuat zhalim, dan berbuat fujur (tindak maksiat). Sifat ini “syuh” ini benar-benar akan mengantarkan pada kejelekan, bahkan kehancuran di dunia dan akhirat. Oleh karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan adanya penyakit “syuh” ini dan beliau menjelaskan bahwa penyakit itulah sebab kehancuran. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,
وَإِيَّاكُمْ وَالشُّحَّ، فَإِنَّ الشُّحَّ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ: أَمَرَهُمْ بِالْقَطِيعَةِ فَقَطَعُوا، وَأَمَرَهُمْ بِالْبُخْلِ فَبَخِلُوا، وَأَمَرَهُمْ بِالْفُجُورِ فَفَجَرُوا
Waspadalah dengan sifat ‘syuh’ (tamak lagi pelit) karena sifat ‘syuh’ yang membinasakan orang-orang sebelum kalian. Sifat itu memerintahkan mereka untuk bersifat bakhil (pelit), maka mereka pun bersifat bakhil. Sifat itu memerintahkan mereka untuk memutuskan hubungan kekerabatan, maka mereka pun memutuskan hubungan kekerabatan. Dan Sifat itu memerintahkan mereka berbuat dosa, maka mereka pun berbuat dosa” (HR. Ahmad 2/195. Dikatakan Shahih oleh Syaikh Al Arnauth)
Sufyan Ats Tsauri pernah mengatakan, “Aku pernah melakukan thawaf mengelilingi Ka’bah. Kemudian aku melihat seseorang berdo’a ‘Allahumma qinii syuhha nafsii’, dia tidak menambah lebih dari itu. Kemudian aku katakan padanya, ‘Jika saja diriku terselamatkan dari sifat ‘syuh’, tentu aku tidak akan mencuri harta orang, aku tidak akan berzina dan aku tidak akan melakukan maksiat lainnya’. Laki-laki yang berdo’a tadi ternyata adalah ‘Abdurrahman bin ‘Auf, seorang sahabat yang mulia. (Dibawakan oleh Ibnu Katsir pada tafsir Surat Al Hasyr ayat 10).
Lalu bagian do’a yang terakhir,
وَاجْعَلْنِي مِنَ الْمُفْلِحِينَ
/Waj’alnii minal muflihiin/
Ya Allah, dan jadikanlah aku orang-orang yang beruntung“.
Maksud do’a ini adalahb jadikanlah orang-orang yang beruntung di dunia dan akhirat. Jika ia telah mendapakan hal ini, itu berarti ia telah mendapatkan seluruh permintaan dan selamat dari segala derita.
[Tulisan ini disarikan dari kitab “Syarh Ad Du’a minal Kitab was Sunnah lisy Syaikh Sa’id bin Wahf Al Qahthani”. Pensyarh: Mahir bin ‘Abdul Humaid bin Muqaddam]
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Jumat, 01 Maret 2013

AYAT KURSI SEBAGAI BENTENG PERTAHANAN


“Allah, tidak ada yang benar disembah hanya Dia yang Hidup dan Maha Kaya, tidak pernah mengantuk dan tidak pernah tidur, bagi-Nya sesuatu yang ada di langit dan di bumi, tidak ada yang boleh memberi syafaat kecuali denga izin Nya. Ia maha mengetahui segala apa yang terjadi di hadapan mereka dan dibelakang mereka. Tidaklah mereka meliputi ilmunya kecuali yang dikehendaki-Nya. Lebih luas kursinya dari langit dan bumi. Tidak susah bagi Nya memelihara keduanya. Ia Maha Tinggi dan Maha Besar.”
Ayat Kursi diturunkan pada suatu malam saat Rasulullah berhijrah. Menurut riwayat, ayat kursi ini diturunkan disertai dengan beribu-ribu malaikat sebagai pengantar, karena kebesaran dan kemuliaannya. Kerajaan Iblis menjadi gempar karena ada sesuatu yang menjadi perintang dalam perjuangan mereka menegakkan kejahatan.
Setelah menerima ayat tersebut Rasulullah SAW segera memerintah kepada pencatat Al Quran yaitu Zaid bin Tsabit agar segera menulis dan menyebarkannya.
Ada terdapat sembilan puluh lima buah hadis yang menjelaskan faedah Ayat Kursi. Ayat ini dikenal dengan ayat kursi karena di dalamnya terdapat kata kursi, tempat duduk yang megah lagi yang mempunyai Dzat yang Maha Memiliki Martabat dan Derajat. Yang perlu diperhatikan, tidak tepat memaknai kata kursi ini sebagai tempat duduk Tuhan. Makna yang lebih pas adalah syiar atas kebesaran-NYA.
10 MANFAAT
1. Barang siapa yang membaca ayat Kursi dengan istikomah setiap kali selesai sembahyang fardhu, setiap pagi dan petang, setiap kali masuk ke rumah atau ke pasar, setiap kali masuk ke tempat tidur dan musafir, insyaallah akan diamankan dari godaan syaitan dan kejahatan raja-raja (yang berkuasa di suatu wilayah) yang kejam, diselamatkan dari kejahatan manusia dan kejahatan binatang. Terpelihara dirinya dan keluarganya, anak-anaknya, hartanya, rumahnya dari pencurian, kebakaran dan banjir, gempa bumi dan bencana lainnya.
2. Dalam kitab Ass’arul Mufidah, barang siapa yang mengamalkan ayat kursi dengan membaca sebanyak 18 kali, Inysa Allah ia akan hidup dengan berjiwa tauhid, dibukakan dadanya dengan berbagai hikmah, dimudahkan rezekinya, dinaikkan martabatnya, diberikan kepadanya pengaruh sehingga orang segan kepadanya, diperlihara dari segala bencana dengan ijin Allah SWT.
3. Salah seorang ulama Hindi mendengar dari salah seorang guru besarnya dari Abi Lababah r.a: membaca ayat Kursi sebanyak anggota sujud (7 kali) setiap hari adalah benteng pertahanan Rasulullah SAW.
4. Syaikh Abul ‘Abas al Bunni menerangkan: Barang siapa membaca ayat Kursi sebanyak hitungan kata-katanya (50 kali), di tiupkan pada air hujan kemudian diminumnya, maka Insya Allah akan cerdas akalnya dan akan dipermudah pelajaran yang dihadapinya.
5. Barangsiapa membaca ayat Kursi selepas sholat fardhu, Tuhan akan mengampunkan dosanya. Yang membacanya ketika akan tidur maka dia terpelihara dari gangguan setan, dan bila membacanya ketika marah, maka akan hilang rasa marahnya.
6. Syaikh al Buni menerangkan: barangsiapa yang membaca ayat Kursi sebanyak hitungan hurufnya (170 huruf), maka Insya Allah, dia akan ditolong dalam segala hal dan saat ia menunaikan segala hajat. Melapangkan pikirannya, diluaskan rezekinya, dihilangkan kedukaannya dan diberikan apa yang diinginkannya.
7. Barang siapa membaca ayat Kursi ketika hendak tidur, maka Tuhan mengutus dua malaikat penjaga yang menjaga selama tidurnya sampai pagi hari.
8. Abdurohman bin Auf menerangkan bahwa, apabila masuk rumah dengan membaca ayat Kursi pada empat penjuru rumahnya maka akan diutus penjaga yang melindungi rumahnya dari setan yang terkutuk.
9. Syaikh al Buni menerangkan: siapa yang takut terhadap serangan musuh hendaklah ia membuat garis lingkaran denga menahan nafas sambil membaca ayat Kursi. Kemudian ia masuk bersama jamaahnya ke dalam garis lingkaran tersebut menghadap kearah musuh, sambil membaca ayat Kursi sebayak 50 kali, atau 170 kali, Insya Allah musuh tidak akan melihatnya dan tidak akan mengalahkannya.
10. Dalam kitab Khawasul Qur’an dikatakan oleh Syaikh Kabir Muhyiddin Ibnul Arabi, barang siapa yang membaca ayat Kursi sebayak 1000 kali dalam sehari semalam selama 40 hari, maka demi Allah, demi Rasul, demi al Quran yang mulia, Tuhan akan membukakan baginya hijab ruhani, apa yang dikehendakinya terkabul dan ia diberi derajat yang pengaruh yang tinggi di masyarakat. ***

Kamis, 28 Februari 2013

[DOA] mOhOn kesembuhan dan kesehatan




“…(yaitu Tuhan) Yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku,, dan Tuhanku, Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku, dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali), dan Yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat.”
(QS. Asy Syu’araa’, 6 : 78-82)
اللهم عافني في بدني اللهم عافني سمعي اللهم عافني بصري
اللهم إني أعوذبك من الكفر والفقر. اللهم إني أعوذبك من عذاب القبر لا إله إلا أنت
Allahumma ‘afnii fii badanii, Allahumma ‘afnii sama’ii, Allahumma ‘afnii basharii, Allahumma inni A’udzubika minal kufuri wal faqri. Allahumma inni a’udzubika min ‘adzaabil qabri. Laa ilaaha illa anta.
“Ya Allah sembuhkan badanku, Ya Allah sembuhkanlah pendengaranku. Ya Allah sembuhkan penglihatanku. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kekufuran dan kefakiran. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari adzab Kubur. Tiada tuhan selain Engkau.”(H.R. Abu Daud )
أسألك العفو و العافية وحسن اليقين والمعافاة فى الدنيا والأخرة
“Aku bermohon kepada-Mu ampunan, kesehatan, baiknya keyakinan. Dan sembuhkanlah aku (dari sakit) di dunia dan akhirat.” (H.R. An-Nasai)

Adab ketika Sakit
1. Penyakit itu cobaan dari Allah, maka harus diterima dengan ikhlas
2. Bersabar akan membantu kesembuhan
3. Tetap salat dengan sekemampuannya
4. Selalu berdzikir kepada Allah
5. Berusaha mengobati penyakitnya
6. Tidak berobat kepada dukun atau paranormal
7. Memohon kesembuhan dengan banyak berdoa

KEKUATAN BERTAWAKAL PADA ALLAH


Oleh Fadhil ZA

Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.” (At Taubah 51)

Didalam Al Qur’an banyak sekali ayat yang memerintahkan kita agar bertawakkal pada Allah. Salah satunya adalah surat At Taubah ayat 51 seperti disebutkan diatas. Orang beriman yakin dan percaya bahwa tidak ada satu kejadianpun yang menimpa dirinya melainkan dengan izin dan kehendak Allah. Semua kejadian yang menimpa  dirinya adalah berdasarkan kehendak dan ketetapan Allah atas dirinya , apa yang tidak dikehendaki Allah mustahil terjadi dan menimpa  dirinya.
Orang yang beriman yakin bahwa Allahlah yang melindungi seluruh kehidupannya dari kejahatan sekalian mahluk ciptaanNya. Mereka bertawakal dan menyerahkan seluruh hidupnya dalam naungan dan lindungan Allah. Mereka tidak ragu sedikitpun akan perlindungan dan pertolongan Allah pada diri mereka.
Dari segi bahasa, tawakal berasal dari kata ‘tawakala’ yang memiliki arti; menyerahkan, mempercayakan dan mewakilkan. Seseorang yang bertawakal adalah seseorang yang menyerahkan, mempercayakan dan mewakilkan segala urusannya hanya kepada Allah SWT.
Sedangkan dari segi istilahnya, tawakal didefinisikan oleh beberapa ulama salaf, yang sesungguhnya memiliki muara yang sama. Diantara definisi mereka adalah:
1. Menurut Imam Ahmad bin Hambal.
  • Tawakal merupakan aktivias hati, artinya tawakal itu merupakan perbuatan yang dilakukan oleh hati, bukan sesuatu yang diucapkan oleh lisan, bukan pula sesuatu yang dilakukan oleh anggota tubuh. Dan tawakal juga bukan merupakan sebuah keilmuan dan pengetahuan. (Al-Jauzi/ Tahdzib Madarijis Salikin, tt : 337)
2. Ibnu Qoyim al-Jauzi
  • “Tawakal merupakan amalan dan ubudiyah (baca; penghambaan) hati dengan menyandarkan segala sesuatu hanya kepada Allah, tsiqah terhadap-Nya, berlindung hanya kepada-Nya dan ridha atas sesuatu yang menimpa dirinya, berdasarkan keyakinan bahwa Allah akan memberikannya segala ‘kecukupan’ bagi dirinya…, dengan tetap melaksanakan ‘sebab-sebab’ (baca ; faktor-faktor yang mengarakhkannya pada sesuatu yang dicarinya) serta usaha keras untuk dapat memperolehnya.” (Al-Jauzi/ Arruh fi Kalam ala Arwahil Amwat wal Ahya’ bidalail minal Kitab was Sunnah, 1975 : 254)
 Sikap tawakal dalam kehidupan sehari hari.
Dikisahkan bahwa ada seseorang yang baru datang dari luar kota menemui Rasulullah. Beliau menanyakan apakah ontanya sudah diikat (di parkir secara benar dan dikunci). Orang itu menjawab: Tidak ya Rasulullah, saya tawakkal saja kepada Allah. Rasul lalu menegurnya; (jangan begitu), ikat dulu untamu secara benar, baru engkau bertawakkal kepada Allah. Dari hadis itu dapat difahami bahwa kepercayaan kepada Allah sebagai Yang Maha Kuasa , Maha Pengatur dan Maha Penentu tidak mengurangi professionalitas dan rasionalitas usaha.
Banyak orang yang salah memahami tawakal dalam kehidupan sehari hari, mereka mengharapkan sesuatu tanpa ada usaha sedikitpun mendapatkan apa yang diinginkannya itu. Ini adalah sikap tawakal yang salah kaprah. Bertawakal itu diujung usaha. Kita harus berusaha semaksimal mungkin kemudian baru bertawakal dan berserah diri pada Allah.
Nabi Musa dan pengikutnya ketika dikejar Firaun tidaklah berdiam diri begitu saja, mereka berlari menyelamatkan diri bersama Musa . Namun malang tak dapat ditolak mujur tak dapat diaraih tiba tiba mereka dihadapkan pada situasi yang sulit. Didepan mereka laut menghadang, sementara dibelakang mereka Firaun dengan balatentaranya siap untuk menangkap dan menyiksa mereka. Mereka tidak tahu lagi apa yang akan diperbuat, mereka bertawakal dan berserah diri pada Allah. Kemudian Allah memerintahkan Musa untuk memukulkan tongkatnya ke permukaan laut. Tiba tiba laut itu terbelah, dan dihadapan mereka terbentang jalan yang luas untuk melarikan diri. Demikianlah Allah menolong ornag yang berserah diri padaNya. Merekapun lari menyelamtakan diri melalui lorong yang terbentuk ditengah laut itu. Setela sampai diseberang, Musa pun kembali memukulkan tongkatnya ke permukaan laut . maka tiba tiba laut itupun bertaut kembali menenggelamkan Firaun bersama para pengikutnya.
Ikuti prosedur yang berlaku, kemudian bertawakallah pada Allah, niscaya Allah akan mendatangkan pertolongan dengan cara yang tidak dapat diduga sebagaimana disebutkan dalam surat At Thalaq ayat 2-3:
Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. 3. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.  (At Thalaq 2-3)
Kita harus selalu berusaha untuk patuh dan mengikuti berbagai prosedur yang ada ,berusaha semaksimal mungkin dalam usaha kita . Namun dalam menolong dan menyelamlatkan kita Allah tidak terikat pada semua aturan yang berlaku. Seperti apa yang dialami nabi Musa beserta pengikutnya diatas. Nabi Musa dan pengikutnya harus berusaha semaksimal mungkin menyelamatkan diri dari kejaran Firaun, namun ketika mereka sudah terpojok pada posisi sulit, Allah tidak terikat dengan berbagai aturan untuk menolong mereka. Ketika Musa memukulkan tongkatnya kepermukaan laut , maka laut itu terbelah membentuk sebuah jalan bagi Mjusa dan pengikutnya. Ini adalah kejadian yang tidak masuk akal. Demikianlah cara Allah menyelamatkan hamba hambaNya.
Demikian pula cara orang beriman mengatasi berbagai masalah kehidupan, ketika mereka sakit merekapun berobat sesuai prosedur yang berlaku, kemudian bertawakal pada Allah. Mereka mencari rezeki dengan berniaga, bekerja, menjual jasa, dan lain sebagainya kemudian mereka berserah diri pada Allah. Mereka tidak berdiam diri  berpangku tangan begitu saja  untuk mendapatkan rezeki dari Allah.
Allah menjamin rezeki orang yang selalu berusaha dan bertawakal padaNya sebagaimana yang dikisahkan oleh Umar bin Khattab ra bahwa ia pernah mendengar  Rasulullah SAW bersabda :
  • Sekiranya kalian benar-benar bertawakal kepada Allah SWT dengan tawakal yang sebenar-benarnya, sungguh kalian akan diberi rizki (oleh Allah SWT), sebagaimana seekor burung diberi rizki; dimana ia pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar, dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang ” …. (HR. Ahmad, Turmudzi dan Ibnu Majah).
Tidak dibenarkan ketika ditimpa suatu penyakit kemudian berdiam diri pasrah dan bertawakal pada Allah tanpa ada usaha sedikitpun untuk berobat. Mengharapkan kekayaan atau kesuksesan namun hanya berdiam diri dirumah tanpa usaha sedikitpun. Itu adalah tawakal salah kaprah.
Melatih sikap tawakal
Sikap tawakal tidak akan muncul begitu saja dalam diri seseorang. Sikap itu akan muncul dan tertanam dalam diri seseoang melalui latihan , pengalaman dan waktu yang lama. Sikap tawakal adalah masalah hati. Tidak mudah untuk bersikap ikhlas dan berserah diri pada Allah.
Hati manusia selalu dirongrong oleh rasa cemas, takut, was was, bimbang , ragu yang selalu ditiupkan syetan kedalam hati manusia. Kita harus  sanggup mengalahkan semua perasaan tersebut. Jika berbagai sifat dan perasaan tersebut masih bercokol dihati kita , sulit bagi kita untuk bertawakal pada Allah.
Shalat yang dilakukan dengan benar dan khusuk dapat membantu menghilangkan berbagai rasa cemas, takut, bimbang, ragu seperti tersebut diatas. Ayat dan kalimat yang dibaca dalam shalat jika dipahami dan dimengerti  maksudnya berisi motivasi dan nasehat yang dapat menghilangkan semua sifat tersebut. Namun jika shalat dilakukan secara asal asalan tanpa mengerti makna dan maksud ayat yang dibaca , berbagai sifat buruk tersebut tidak akan bisa hilang.
Kalimat dzikir seperti tasbih, hamdalah, tahlil, hasbalah, yang dibaca didalam hati dengan sungguh sungguh dan penuh keyakinan juga dapat membersihkan hati dari sifat buruk tersebut. Membaca Qur’an setiap hari dengan memahami setiap ayat yang dibaca (membaca dengan terjemahannya), juga dapat membersihkan hati dari berbagai penyakit tersebut diatas.
Pengalaman sukses dan berbagai pertolongan yang didapat secara menakjubkan dari Allah akan menimbulkan keyakinan yang sempurna pada diri setiap orang. Ada tiga tahap ilmu yang didapat seseorang, pertama ilmalyakin yaitu ilmu yang didapat berdasarkan pengetahuan yang didapat dari mendengar atau cerita dari orang lain.  Kedua adalah ainalyakin yaitu ilmu yang didapat dari melihat pengalaman atau kejadian luar biasa yang dialami seseorang. Ia menyaksikan sendiri bagaimana Allah menolong orang yang bertawakal keluar dari kesulitan yang dialaminya. Yang ketiga adalah haqulyakin yaitu pengetahuan yang didapat dari pengalamannya sendiri, ia merasakan sendiir bagaimana dahsyatnya pertoloingan Allah ketika ia bertawakal padaNya. Derajat ilmu tertinggi adalah haqulyakin ini.
Pertolongan Allah pada orang yang bertawakal
Ketika nabi Ibrahim dilemparkan kedalam api yang berkobar oleh orang musyrik penyembah berhala ia bertawakal dan menyerahkan dirinya pada Allah dengan sepenuh hati. Allah menyelamatkan nabi ibrahim dengan memerintahkan api agar menjadi dingin terhadap Ibrahim. Orang Musyrik penyembah berhala itu tercengang melihat Ibrahim keluar dari tumpukan bara api dengan selamat tanpa luka sedikitpun.
Ada sebuah kisah yang menarik dari seorang yang bernama Hatim Al-Asham.Suatu kali Hatim ingin menunaikan ibadah haji ke Baitullah.Ia pun mengumpulkan anak-anaknya dan berkata : “Saya akan pergi untuk menunaikan ibadah haji ke Baitullah.” Anak-anaknya berkata : “Siapa yang akan memenuhi kebutuhan kami ?”Akan tetapi, salah seorang puterinya berkata dengan penuh keyakinan : “Wahai ayah, silahkan ayah pergi dan sempurnakanlah ibadah haji ayah.Karena saya yakin, ayah bukan pemberi rezeki.”
Hatim pun pergi,selang beberapa hari makanan di rumah habis.Lalu seluruh keluarga datang kepada gadis bertakwa itu, dengan melontarkan cacian dan celaan.Kemudian gadis itu menyepi dan menautkan permohonannya kepada Rabbnya yang telah berfirman :
” Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah,Dia akan menjadikan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka…
( QS, Ath-Thalaq (65) : 2 – 3 ).
 Demi Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, Dia tidak akan mengabaikan seorang yang bertakwa.Wujudkanlah takwa dan serahkan segala urusan kepada Raja.
Allah memenuhi permohonan si gadis.Pada saat yang bersamaan, pemimpin negeri itu sedang meninjau kondisi rakyatnya, ketika sampai di depan rumah Hatim, ia begitu didera rasa haus, yang hampir-hampir membunuhnya.Ia berkata kepada salah satu pengawalnya : “Carikan aku segelas air dingin.” Maka pengawal itu masuk ke rumah terdekat, yaitu rumah Hatim.Para penghuni rumah pun segera menyediakan gelas yang bersih dan air yang dingin.
Sang Raja meminum air yang disediakan, ia bertanya : “Rumah siapa ini ?”Mereka menjawab : “Milik Hatim Al-Asham.” Raja bertanya lagi : “Ia seorang yang shaleh ?” Mereka menjawab : “Benar”. Raja berkata : “Segala puji hanya milik Allah yang telah memberi kami minum dari rumah orang shaleh.Dimana dia sekarang, agar kita memberi salam kepadanya ?” Mereka menjawab : “Dia pergi untuk menunaikan ibadah haji ke Baitullah.” Raja berkata :” Kalau demikian, demi Allah, kita wajib mencukupi kebutuhan anggota keluarganya ketika dia tidak ada.”
Kemudian sang raja mengeluarkan sekantong uang emas dan melemparkannya ke rumah Hatim Al Asham.Akan tetapi Allah yang Maha Memberi Rezeki hendak memberikan tambahan rezeki yang lain, Dia gerakkan hati sang raja.Raja menoleh ke arah para prajuritnya dan berkata : ” Barangsiapa yang mencintaiku, hendaklah ia melakukan seperti tindakanku tadi “.Maka, masing-masing prajurit melemparkan semua harta yang mereka bawa, sebagai bentuk basa-basi kepada sang raja
Akhirnya rumah si gadis penuh dengan emas.Si gadis masuk ke kamarnya sambil menangis haru, saudara-saudaranya keluar mendengar tangisannya.” Kita telah menjadi manusia yang paling kaya.Seorang makhluk telah memandang ke arah kita sekali pandang, sehingga kita pun menjadi kaya, lantas bagaimana jika Sang Khalik yang memandang ke arah kita.
Dalam kitab Riyadhus Shalihin, dikisahkan cerita tentang perang Dzatur riqa’, ketika Rasulullah Saw sedang beristirahat di bawah sebuah pohon, sedangkan pedang beliau tergantung di pohon. Tiba-tiba datang seorang musyrikin yang mengambil pedang beliau sambil berkata, siapa yang dapat melindungimu dariku? Namun dengan sangat tenang Rasulullah Saw menjawab, “ Allah”. Setelah tiga kali bertanya, dan Rasulullah menjawab dengan mantab dengan jawaban yang sama, tiba-tiba pedang yang dipegang orang musyrik itu jatuh. Lalu Rasulullah Saw mengambil pedang tersebut seraya bertanya, sekarang siapakah yang dapat melindungimu dariku?
Kisah tersebut adalah sekelumit bagaimana seorang insan yang begitu yakin akan kekuasaan dan pertolongan yang diberikan kepadanya oleh Sang Pencipta. Ketika logika tidak dapat lagi menjelaskan tentang nasib seorang manusia, atau ketika usaha sudah maksimal dilakukan dan tidak ada lagi yang dapat dilakukan manusia untuk menghadapi masalahnya, maka di saat itulah seorang manusia pasti terbersit sebuah rasa kepasrahan dan harapan kepada Allah SWT Sang Pemilik Kuasa atas segala persoalan. Dan nyatanya Allah SWT selalu menunjukkan kebesaran-Nya dan tidak akan pernah meninggalkan hamba-Nya yang berpasrah diri kepada-Nya.
Demikianlah Allah selalu menolong orang yang bertawakal padaNya dengan cara yang tidak kita mengerti. Allah tidak terikat dengan  berbagai aturan dan hukum alam dalam menolong hamba hambanya, ia maha kuasa atas segala sesuatu.
Sifat tawakal dan berserah diri pada Allah adalah kekuatan yang maha dahsayat dalam menghadapi berbagai masalah dan persoalah hidup, Allah telah menjajikan ini dalam surat Ali imran ayat 160:

Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal.      (Ali Imran 160)